2. Istana mangkunegaraan
Penanaman kopi dilakukan saat Pangeran Arya Gandakusuma menjabat sebagai patih. Pada tahun 1842, Kerajaan Mangkunegaran memproduksi biji kopi sebanyak 1.208 kuintal. Pada tahun 1857, jumlah ini meningkat drastis menjadi 11.145 kuintal.
Moncernya bisnis kopi saat itu sebagai solusi kemelut krisis keuangan istana. Pemantik krisis bermula ketika kebijakan Belanda yang melarang penyewaan tanah lungguh (apanage). Pangeran Arya Gandakusuma ketika diangkat menjadi raja dengan gelar Mangkunegara IV memanfaatkan momen ini karena nilai ekonomi kopi yang tinggi.
Pakopen ini juga berada di, Hanggabayan, Keduwang, dan Karangpandan. Penanamannya tersebar di wilayah Tawangmangu, Jumapolo, Jumapuro, Jatipuro, Ngadirojo, Sidoarjo, Jatisrono, Purwantoro, Girimarto, Eromoko, Nguntoronadi, Singosari, dan Ngawen.
3. Sortir panen kopi mangkunegaraan
Dengan mendatangkan ahli perkebunan kopi dari Eropa, Rudolf Kampff, Mangkunegara IV menerapkan manajerial modern dengan menunjuk administratur bergelar panewu kopi dan mantri kopi. Juga didirikan gudang penampungan kopi. Setiap administratur bertanggung jawab kepada penilik atau inspektur.
Mangkunegara IV berjasa dengan meninggalkan warisan berupa pedoman tata cara pengolahan kopi untuk masyarakat pekopen pada tahun 1867. Pedoman agar perkebunan menghasilkan buah kopi yang melimpah itu ada 17 tahap dimulai dari pemilihan lahan, pengolahan tanah, pemilihan dan pengolahan benih, pemindahan semaian, penyangkulan. pemanenan, penjemuran dan penumbukan sampai penggantian tanaman dan antisipasi hama.
0 Komentar